Skip to content

EMPAT PINTU MENUJU ZINA

23 Oktober 2010

Semua anggota tubuh kita berpeluang melakukan zina. Zina mata berupa pandangan. Zina lisan berupa ucapan. Jiwayang berharap dan menginginkan. Kemaluan yang membenarkan atau mendustainya.

 

Perilaku zina tak langsung terjadi begitu saja. Ada tahapan yang mengawalinya. Tahapan-tahapan itu ibarat tangga yang bisa mengantarkan seseorang pada perilaku maksiat. Ada beberapa tahapan yang bisa menjadi jebakan seseorang hingga terjerumus pada perzinaan.

Pertama, al-Lahazhat (pandangan mata). Ini merupakan gerbang utama menuju zina. Orang yang melepaskan pandangannya tanpa kendali, bisa terjerumus pada jurang kebinasaan. Dalam musnad Imam Ahmad, di riwatkan dari Rasulullah saw, “Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah  iblis. Barang siapa yang memalingkan pandanganya dari kecantikan wajah seorang wanita, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai hari kiamat.”

Pandangan bisa menjadi muara musibah yang menimpa manusia. Pandangan akan melahirkan lintasan dalam benak, pikiran dan syahwat. Dari syahwat inilah timbul keinginan. Keinginan ini menjadi kuat dan berubah menjadi niat yang bulat. Akhirnya, yang sebelumnya hanya melintas dalam pikiran menjadi kenyataan. Karena ujung pangkalnya perbuatan zina yang keji ini adalah pandangan mata, maka Allah mendahulukan perintah untuk memalingkan pandangan mata sebelum perintah untuk menjaga kemaluan (QS. An-Nuur: 30-31).

Banyak musibah yang asalnya hanya pandangan. Bak kobaran api yang besar, mulanya berasal dari kobaran api yang kecil. Awalnya hanya pandangan, kemudian khayalan, lalu tingkah nyata, dan terjadilah zina. Ironisnya, justru pintu ini yang sekarang banyak yang terbuka lebar. Maraknya tayangan televisi yang mengumbar aurat, kian menjamurnya para remaja yang berpakaian minim, menjadi celah besar yang bisa menjerat pandangan menuju zina. Di sinilah hikmahnya, mengapa Allah mewajibkan Muslimah menutup aurat.

Kedua, al-Khatharat (khayalan). Dari sinilah lahirnya keinginan untuk melakukan sesuatu yang akhirnya berubah menjadi sesuatu yang bulat. Siapa yang mampu mengendalikan pikiran yang melintas di benaknya, niscaya ia mampu mengendalikan diri dan nafsunya. Sebaliknya, orang yang tak bisa mengendalikan pikiranya, hawa nafsunyalah yang berbalik menguasainya. Pikiran itu akan terus melintas dalam benak dan hati seseorang. Sehingga akhirnya akan menjadi angan-angan tanpa makna. Orang yang paling buruk cita-citanya dan paling hina adalah orang yang merasa puas dengan angan-angan kosong. Dia pegang angan-angan itu untuk dirinya dan dia pun merasa bangga dan senang. Padahal, angan-angan kosong adalah modal orang-orang pailit dan dagangan para pengangguran serta makanan pokok bagi jiwa yang kosong.

Angan-angan lahir dari sikap malas dan tidak mampu. Ia melahirkan sikap lalai yang selanjutnya berbuah penderitaan dan penyesalan. Orang yang menjadikan angan-angan sebagai pelampiasan nafsunya, akan mengubah gambaran realita yang dia inginkan, mendekap, memeluknya erat-erat. Selanjutnya ia akan puas dengan gambaran palsu yang dikhayalkannya itu. Padahal semua itu tidak akan membawa manfaat. Sama seperti orang lapar yang menghayalkan makanan yang enak tapi tidak pernah bisa mengenyangkannya.

Para pemuda muslim kini banyak yang di bujuk dan di matikan inovasinya dengan khayalan-khayalan kosong. Maraknya hadiah ratusan juta rupiah, membuat anak generasi muda menjadi generasi pengkhayal. Keadaan ini di perparah dengan menjamurrnya tayangan sinetron remaja yang mengumbar aurat, kesenangan dan hedonistis. Padahal, semua itu hanya ada dalam dunia maya yang tak mungkin bisa memuaskan.

Ketiga, al-Lafazhat (kata-kata atau ucapan). Kalau ingin memngetahui apa yang di dalam hati seseorang, maka lihatlah ucapannya. Ucapan itu akan menjelaskan apa yang ada di dalam hati seseorang. Yahya bin Mu’adz memaparkan, hati bagaikan panci yang sedang menggedok apa yang ada di dalamnya. Lidah bagaikan gayungnya. Perhatikanlah seseorang saat dia berbicara. Lidah orang itu sedang menciduk apa yang ada di dalam hatinya, manis atau tawar atau asin. Nabi saw. pernah di Tanya tentang hal yang paling banyak memasukan orang ke dalam neraka. Beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan,” (HR At-Tirmidzi)

Mu’adz bin jabal pernah bertanya kepada Nabi saw. terntang amal apa yang dapat memasukan orang kedalam surga dan menjauhkan nya dari neraka. Lalu Nabi saw. memberitahukan tentang pokok, tiang, dan puncaknya yang paling tinggi dari amal tersebut, setelah itu beliau bersabda, “bagaimana kalau aku beritahu pada kalian inti dari itu semua?” Dia berkata,” Ya , wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah memegang lidahnya sendiri dan berkata, jagalah olehmu yang satu ini.” Maka Mu’adz berkata,”Adakah kita bisa di siksa karena apa yang kita ucapkan?” beliau menjawab, “ibumu kehilangan engkau ya Mu’’adz, tidaklah yang dapat menyungkurkan banyak manusia ke atas wajah mereka (ke neraka) kecuali hasil (ucapan) lidah-lildah mereka?” (HR At-Tirmidzi)

Abu Bakar Ash-Shidiq pernah memegang lidahnya dan berkata, “inilah yang memasukkan aku ke dalam berbagai masalah.” Ucapan adalah tawanan. Jika sudah keluar dari mulut berarti andalah yang menjadi tawanannya. Allah selalu memonitor lidah setiap kali berbicara, “Tak satu ucapan pun yang di ucapkan kecuali ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir,” (QS. Qaf: 18)

Pada lidah itu terdapat dua penyakit besar. Jika seseorang selamat dari salah satu , maka dia tidak bisa lepas dari penyakit satunya lagi. Yaitu, penyakit berbicara dan penyakit diam. Dalam satu kondisi, bisa jadi salah satu dari keduanya akan mengakibatkan dosa yang lebih besar dari yang lain. Orang yang diam terhadap kebenaran ibarat setan yang bisu. Orang yang berbicara dengan kebatilan, adalah setan yang berbicara. Maraknya lagu-lagu yang bertema cinta, bualan kosong sejenisnya, melengkapi langkah setan dalam menjerumuskan manusia. Di tambah lagi dengan maraknya acara gosiptaiment dari hari ke hari, makin menambah celah dan perangkap setan untuk menggiring manusia garapannya menuju dosa..

Keempat, al-Khatahwat (langkah kongkret dalam suatu perbuatan). Ini merupakan ujung dari ketiga langkah tersebut di atas. Mata yang sudah terbiasa melihat kemaksiatan akan melahirkan angan-angan kosong. Khayalan akan melahirkan kata-kata yang jorok dan gosip murahan. Semua itu berakhir dengan tindakan konkret berupa perzinaan, pergaulan bebas dan seabrek perilaku maksiat lainnya.

Perilaku zina tak semata terjadi ketika dua alat kelamin bertemu. Semua anggota tubuh berpeluang untuk melakukan zina. Dari Abu Hurairah Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi anak cucu Adam bagian dari zina, yang ia pasti mengetahuinya. Zina mata berupa pandangan, zina lisan berupa ucapan, jiwa yang menginginkan dan mengharap. Dan kemaluan yang membenarkan atau mendustainya,” (Muttafaqun ‘alaihi).

 

By SAMSUDIN L TOKAN di salin dari majalah hidayah

2 Komentar leave one →
  1. Sang Penjelajah Malam permalink
    23 Oktober 2010 10:31 am

    subhanallah

  2. 24 Oktober 2010 10:06 am

    syukron sudah mampir…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: