Skip to content

MITOS-MITOS SESAT DI TENGAH MASYARAKAT

28 Oktober 2010


Dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda : Tidak ada ‘Adwa (penularan), tidak ada tathayyur (mengundi nasib dengan burung) dan tidak ada hammah (burung hantu) dan tidak ada shafar (larangan bulan atau hari) dalam riwayat Muslilm ditambahkan tidak ada nau’ (rasi bintang) dan tidak ada ghul (hantu).”  (HR. Bukhari dan Musllim)

 

Selama ini kita sering mendengar berbagai mitos di tengah-tengah masy-arakat, bahkan mitos tersebut berkem-bang menjadi isme (kepercayaan) yang di percayai kebenarannya. Ia diyakini sebagai sebuah pantangan yang apabila dilanggar maka akan mendatangkan bencana bagi orang yang bersangkutan. Atau jika sesuatu yang di mitoskan itu dimiliki oleh seseorang, maka akan mendatangkan hoki (keberuntungan) bagi si pemiliknya.

Hadits diatas merupakan penegasan langsung dari Rasulullah saw. bahwa mitos-mitos tersebut sesat dan menyesa-tkan dan tidak membawa manfaat maupun mudharat bagi siapa-pun Hanya Allah yang dapat memberikan manfaat dan mudharat kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Mitos-mitos yang beredar di tengah masyarakat yang selama ini diangap biasa dan wajar sesungguhnya merupakan bentuk kesyirikan yang luar biasa. Kesyirikan tidak terbatas pada menye-mbah sesuatu selain Allah, tetapi juga paham atau keyakinan yang menyimpan dari tuntunan-Nya pun merupakan bent-uk kesyirikan. Hanya saja sebagian masy-arakat tidak merasa bahwa apa yang diyakini itu merupakan bentuk kesyirikan.

Sikap permisif sebagian masyarakat terhadap berbagai bentuk kesyirikan, disamping karena sudah menjadi keyakinan yang turun temurun, mungkin juga disebabkan oleh kesamaran bentuk-nya Karena samarnya bentuk kesyirikan, sehingga sangat tepat jika Rasulullah mengibaratkan kesyirikan itu seperti seekor semut hitam yang berjalan diatas batu hitam di tengah kegelapan malam. Berikut beberapa mitos yang harus diwaspadai dan disingkirkan karena dapat mengotori akidah :

1. Tidak ada ‘Adwa (penularan)

Sebab munculnya (asbabul wurud) hadits tersebut diatas adalah sebagai bantahan terhadap pernyataan seorang badui kepada Rasulullah saw. yang menyata-kan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya lubang kudis yang ada di bibir unta atau buntutnya akan menular kepada semua unta. Lalu Rasulullah saw. bersabda: tidak ada ‘adwa, thuyarah, hammah dan shafar. Allah menciptakan setiap  jiwa dan menentukan perjalanan hidupnya.

Dikalangan muhadditsin, hadits ini dianggap mukhtaliful hadits (hadits yang  maknanya terkesan saling bertentangan) dengan hadits shahih lain yang berbunyi, ‘fir min al-majzumi firraka min al-asad” ( larilah dari penyakit kusta sebagaimana kamu lari dari kejaran singa). Logikanya, jika tidak ada penyakit menular, lalu me-ngapa seseorang harus menghindar dari penyakit kusta. Padahal pada hadits pertama Rasulullah saw. menjelaskan “la adwa” (tidak ada penyakit menular). Namun menurut para muhadditsin, mak-na hadits ini masih bisa dikompromikan (thariqatul jam’i), sehingga keduanya bisa diterima. Menurut mereka semua penyakit itu datangnya dari Allah swt, hanya saja jalannya bisa bermacam-macam.

Sedangkan pernyataan Rasulullah saw tersebut tidak menafikan sama sekali adanya penyakit menular, tetapi yang dimaksudkan adalah tidak semua penyakit pasti menular kepada orang lain. Tertular atau tidak tergantung pada kehendak Allah swt. Jika Allah menghe-ndaki ada penularan sesuatu jenis penyakit, hal itu mudah terjadi, tetapi jika tidak menghendaki, maka tidak akan terjadi penularan.

Namun demikian, manusia tetap dituntut untuk melakukan ikhtiar (usaha) semampunya, sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khatab ketika (menyuruh) keluar dari sebuah lingkung-an yang sedang terjadi wabah penyakit. Ketika beliau ditanya tentang hal tersebut, Umar bin Khatab menjawab, “Kharajna Min Taqdiirin ila Taqdiirin” (kita telah keluar dari satu takdir ke takdir yang lain).

Dari kisah ini maka semakin jelas bahwa semangat pernyataan Rasulullah saw. tersebut sesungguhnya agar selalu manusia menggatungkan hidupnya    kep-ada Allah swt seraya melakukan ikhtiar dan bukan menggantungkan hidup mati-nya kepada selain Allah swt.

 

2. Tidak ada Tathayyur (mengundi nasib dengan jenis burung/binatang tertentu)


Selama ini, kita sering mendengar tentang mitologi burung perkutut atau ayam cemani dengan warna tertentu dapat mendatangkan kekayaan dan keselamatan, suara burung sebagai pert-nda bahaya burung gagak yang berarti kematian bila hinggap di rumah seseor-ang, bahkan suara tokek yang dihitung dengan bilangan tertentu akan mendata-ngkan hoki, dan lain sebagainya.

Bergantung pada suara burung, lalu menyatakan ini pertanda baik atau buruk, atau dengan memiliki burung (ayam) tertentu akan mendatangkan ke-selamatan dan keberuntungan adalah bentuk kesyirikan yang dapat merusak akidah seseorang. Mempercayai mitos semacam itu sama halnya dengan meng-ganungkan hidupnya kepada selain Allah swt.

Ibnu Abbas pernah menegur seseorang yang menimpali suara burung dengan mengatakan “baik…baik…baik” karena ia meyakini suara burung tersebut dapat mendatangkan kebaikan. Lalu Ibnu Abbas mengatakan “tidak baik dan tidak ada buruk”. Beliau segera menolak tersebut agar orang tidak lagi memperca-yai bahwa suara burung dapat member-kan pengaruh baik atau buruk bagi kehidupan seseorang.

 

3. Tidak ada Hammah (burung hantu)


Ibnu Arabi menjelaskan bahwa di masyarakat arab jahiliyah berkembang mitos, bahwa burung hantu dapat mendatangkan kemalangan baik berupa bencana atau kematian jika hinggap di rumah seseorang. Lalu muncullah hadits yang menolak kepercayaan tersebut dan dianggap sebagai bentuk kesesatan.

Hal yang sama juga terjadi dikalangan masyararakat kita, misalnya apabila burung tretetet (bahasa Lombok; sejenis burung malam) yang apabila terbang dan mengeluarkan suara maka pertanda akan terjadi kematian atau kemalangan bagi seseorang. Mitos semacam ini jelas merupakan bentuk keyakinan yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesyirikan.

 

4.Tidak ada shafar (larangan bulan atau hari)

Di kalangan masyarakat arab dahulu, bahkan juga dikalangan masyarakat kita saat ini, berkembang mitos atau keyaki-nan bahwa dalam bulan-bulan tertentu, atau hari-hari tertentu, seseorang tidak boleh melakukan aktifitas tertentu dan masyarakat biasa menyebutkan hari baik atau hari buruk.

Di kalangan sebagian masyarakat, terdapat suatu keyakinan bahwa apabila seseorang melakukan perkawinan or pernikahan di bulan, hari atau tanggal tertentu maka akan dapat terjadi perceraian. Ada juga yang meyakini bahwa  bila seseorang lahir pada tanggal dan bulan tertentu, ia tidak boleh melakukan pernikahan dengan seseorang yang lahir pada tanggal dan bulan tertentu pula. Apabila pantangan ini dilarang, maka diyakini akan terjadi bencana, perceraian dan tidak harmonis-nya rumah rangga seseorang. Bahkan jika mereka dikaruniai seorang anak, maka anak tersebut akan meninggal dunia.

Miotos semacam ini tidak memiliki dasar sama sekali baik secara pendekatan keimanan ataupun akal sehat. Malang atau mujurnya nasib seseorang tergantu-ng dari ikhtiar seseorang dan takdir Allah swt.

 

5.Tidak ada Nau’ (ramalan bintang)


Selaras dengan perkembangan dan kecanggihan media informasi baik media cetak maupun media elektronik, maka secanggih itu pula kehebatan seseorang untuk mempromosikan berbagai bentuk kesyirikan, di antaranya adalah apa yang kita kenal dengan istilah amalan bintang, zodiak (horoscope).

Menurut Imam Qatadah sebagaimana di kutib oleh Imam Bukhari bahwa Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hal: penghias langit, pelempar syetan dan tanda bagi seseorang untuk mengenal arah. Maka barang siapa yang menafsirkannya selain itu, berarti ia telah melakukan kesalahan dan menyia-nyiakan watunya serta memaksan diri pada sesuatu yang ia sendiri tidak mengetahuinya.

Dalam sebuah hadits shahih dijelaskan bahwa barang siapa yang mendatangi dukun lalu membenarkan ramalannya, berarti ia telah ingkar kepada ajaran Rasulullah saw. dalam kajian akidah islamiyah mereka yang membaca ramalan bintang baik di Koran, majalah, maupun disitus internet lalu ia meyakini kebenaran ramalan tersebut, berarti ia juga telah terjebak kedalam kesyirikan.

Namun ironisnya, reallitas semacam ini banyak digandrungi oleh sebagian remaja kita. Apabila ingin mengetahui perjalanannya cinta, keuangan dan hari baik, mereka menjadikan ramalan binta-ng sebagai referensi mereka. Maka kewajiban kita adalah saling mengingat-kan dan tidak menganggap sepele perso-alan yang justru dapat merusak akidah umat.

 

6.Tidak ada Ghul (Hantu)

Saat ini, hampir semua stasiun televisi kita menyuguhkan acara maupun film berbau mistik, termasuk mitos tentang hantu gentayangan. Kita masih ingat ten-tang si manis jembatan ancol, kuntilanak dan lain sebagainya, yang mengumbar aroma kesyirikan. Sehingga praktis acara yang ditayangkan tersebut tidak hanya sebagai media hiburan, tetapi sekaligus sebagai media takhayyul dan khurafat yang dapat mengotori akdah umat.

Hantu bukan berasal dari arwah orang meninggal, karena arwah orang yang telah meninggal berada di alamnya sendi-ri dan tidak bisa menampakkan diri di dunia (QS. Al-Mukminun : 99-100). Yang menampakkan diri sebagai hantu ituadalah jin jahat yang bertujuan untuk mengganggu manusia. Karena itulah itu Rasulullah saw mengajarkan agar kita meminta perlindungan kepada Allah swt. Rasulullah saw bersabda: “jika ghailan (hantu jin) muncul, segeralah beradzan atau berdzikir untuk mendapatkan pertolongan Allah dan menjadikan mereka lari terpontang-panting.”

Dari penjelasan di atas, maka semakin jelas bahwa mitos tentang arwah gentay-angan atau roh orang yang telah mening-gal dunia bisa mengganggu orang yang masih hidup adalah menyesatkan. Hal ini sekaligus sebagai bantahan terhadap keyakinan yang selama ini dianut oleh sebagian masyarakat dan misi sesat yang ditayangkan oleh hampir semua stasiun televisi kita.

Wallahu’alam bilshawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: