Skip to content

Antara Adil dan Pisau Dapur

18 Desember 2010

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai keadilan. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk berbuat adil, seperti yang termuat dalam surah an-Nahl ayat 90.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran,” (QS An-Nahl [16]: 90).

Adil memiliki pengertian menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Dalam praktiknya di ranah hukum, kata adil berarti memberikan hukuman yang setimpal kepada pelanggarnya. Hal ini berlaku mutlak bagi semua orang tanpa membeda-bedakan, baik itu penguasa ataupun rakyat biasa. Sebab, pada hakikat nya hukum tidak pandang bulu.

Namun pada kenyataannya, keadilan hukum di negeri ini masih belum terwujud. Selama ini hukum hanya berlaku tegas bagi rakyat kecil dan tidak berlaku tegas bagi orang yang punya kedudukan tinggi.

Pejabat tinggi yang melakukan korupsi mendapatkan hukuman yang terkesan “ringan” dan tidak tegas. Penjara bagi orang yang berkedudukan tinggi tersedia layaknya hotel mewah, dan mendapat per lakuan yang istimewa.

Jika demikian, hukuman tidak memiliki efek jera bagi pelakunya. “Dan, ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka …”(QS al-Anfal [8]: 48).

Ibarat pisau dapur, hukum di negeri ini tumpul jika mengiris ke atas dan tajam jika mengiris ke bawah. Ini adalah tanda-tanda akan datangnya kebinasaan. Sebagaimana yang telah Rasulullah SAW sabdakan, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian hancur karena orang-orang terhormat di kalangan mereka dibiarkan saja ketika mencuri. Tapi, jika yang mencuri orang lemah di antara mereka, berlakulah hukuman atas mereka. Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad yang mencuri akan aku potong tangannya.” (HR Bukhari).

Jika keadilan tidak ditegakkan, itu sama artinya kita sedang merencanakan kehancuran. Akibatnya, orang-orang kuat yang bersalah akan semakin leluasa melakukan kesalahan-kesalahannya, sedangkan rakyak kecil yang lemah akan semakin tertindas.

Pada akhirnya negeri ini tidak mengalami kemajuan dalam segala bidang, dan kita tinggal menunggu kehancurannya. Mari kita tegakkan keadilan mulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan negara. Dan kita mulai sekarang juga. Wallahu a’lam.

Oleh:M.Y.Fahmi

Republika.co.id

Judul by admin

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: